Senin, 15 April 2013

PROSES PRODUKSI DENGAN MESIN KONVENSIONAL

PROSES PRODUKSI DENGAN MESIN
KONVENSIONAL

1. Mesin Bubut Konvensional …..
1.1. Pengertian Mesin Bubut Konvensional
Mesin bubut (turning machine) adalah suatu jenis mesin perkakas
yang dalam proses kerjanya bergerak memutar benda kerja dan
menggunakan mata potong pahat (tools) sebagai alat untuk menyayat
benda kerja tersebut. Mesin bubut merupakan salah satu mesin
proses produksi yang dipakai untuk membentuk benda kerja yang
berbentuk silindris. Pada prosesnya benda kerja terlebih dahulu
dipasang pada chuck (pencekam) yang terpasang pada spindel mesin,
kemudian spindel dan benda kerja diputar dengan kecepatan sesuai
perhitungan. Alat potong (pahat) yang dipakai untuk membentuk
benda kerja akan disayatkan pada benda kerja yang berputar.
Umumnya pahat bubut dalam keadaan diam, pada perkembangannya
ada jenis mesin bubut yang berputar alat potongnynya, sedangkan
benda kerjanya diam. Dalam kecepatan putar sesuai perhitungan, alat
potong akan mudah memotong benda kerja sehingga benda kerja
mudah dibentuk sesuai yang diinginkan.
Dikatakan konvensional karena untuk membedakan dengan
mesin-mesin yang dikontrol dengan komputer (Computer Numerically
Controlled) ataupun kontrol numerik (Numerical Control) dan karena
jenis mesin konvensional mutlak diperlukan keterampilan manual dari
operatornya. Pada kelompok mesin bubut konvensional juga terdapat
bagian-bagian otomatis dalam pergerakkannya bahkan juga ada yang
dilengkapi dengan layanan sistim otomasi baik yang dilayani dengan
sistim hidraulik, pneumatik ataupun elektrik. Ukuran mesinnyapun
tidak semata-mata kecil karena tidak sedikit mesin bubut konvensional
yang dipergunakan untuk mengerjakan pekerjaan besar seperti yang
dipergunakan pada industri perkapalan dalam membuat atau merawat
poros baling-baling kapal yang diameternya mencapai 1000 mm.

1.2. Fungsi Mesin Bubut Konvensional
Fungsi utama mesin bubut konvensional adalah untuk
membuat/memproduksi benda-benda berpenampang silindris,
misalnya poros lurus (Gambar 1), poros bertingkat (step shaft)
(Gambar 2), poros tirus (cone shaft) (Gambar 3), poros beralur (groove
shaft) (Gambar 4), poros berulir (screw thread) (Gambar 5) dan
berbagai bentuk bidang permukaan silindris lainnya misalnya anak
buah catur (raja, ratu, pion dll)



Gambar 1. Poros Lurus




Gambar 2. Poros Bertingkat (Step Shaft)



Gambar 3. Poros Tirus (Cone Shaft)




Gambar 4. Poros Beralur dan Berulir (Screw Thread)

1.3 Jenis-jenis Mesin Bubut Konvensional
Dilihat dari segi dimensinya, mesin bubut konvensional dibagi
dalam beberapa kategori, yaitu : mesin bubut ringan, mesin bubut
sedang, mesin bubut standar, dan mesin bubut berat. Mesin bubut berat digunakan untuk pembuatan benda kerja yang berdimensi besar,
terbagi atas mesin bubut beralas panjang, mesin bubut lantai, mesin
bubut tegak. Adapun gambarnya dapat dilihat sebagai berikut:

1.3.1 Mesin Bubut Ringan
Mesin bubut ringan (Gambar 5) dapat diletakan di atas meja, dan
mudah dipindahkan sesuai dengan kebutuhan, Benda kerjanya
berdimensi kecil (mini). Jenis ini umumnya digunakan untuk membubut
benda-benda kecil dan biasanya dipergunakan untuk industri rumah
tangga (home industri). Panjangnya mesin umumnya tidak lebih dari
1200 mm, dan karena bebanya ringan dapat diangkat oleh satu orang.



Gambar 5. Mesin bubut ringan


1.3.2 Mesin Bubut Sedang
Jenis mesin bubut sedang (Gambar 6 ) dapat membubut
diameter benda kerja sampai dengan 200 mm dan panjang sampai
dengan 100 mm cocok untuk industri kecil atau bengkel-bengkel
perawatan dan pembuatan komponen. Umumnya digunakan pada
dunia pendidikan atau pusat pelatihan, karena harganya terjangkau
dan mudah dioperasikan.



Gambar 6. Mesin bubut sedang


1.3.3 Mesin Bubut Standar
Jenis mesin bubut mesin bubut standar (Gambar 7) disebut
sebagai mesin bubut standar karena disamping memiliki komponen
seperti pada mesin ringan dan sedang juga telah dilengkapi berbagai
kelengkapan tambahan yaitu keran pendingin, lampu kerja, bak
penampung beram dan rem untuk menghentikan mesin dalam
keadaan darurat



Gambar 7. Mesin bubut standar
1.3.4 Mesin Bubut Berat
1.3.4.1 Mesin bubut beralas panjang
Mesin bubut beralas panjang (Gambar 8) mempunyai alas yang
panjangnya mencapai 5 sampai dengan 7 meter dengan diameter
cekam sampai dengan 2 meter sehingga cocok untuk industri besar
dan membubut diameter benda yang besar misalnya poros balingbaling
kapal, menyelesaikan hasil cetakan roda mesin pengeras jalan
(wheel vibrator), roda-roda puli yang besar dan sebagainya.



Gambar 8. Mesin bubut beralas panjang

1.3.4.2 Mesin bubut lantai
Mesin bubut lantai (Gambar 9) mempunyai kegunaan yang sama
dengan mesin mesin bubut beralas panjang, tetapi memilki kapasitas
lebih besar lagi sehingga pergerakan penjepit pahat, kepala lepas dan
pengikatan benda kerjanyapun harus dilakukan dengan cara hidraulik,
pneumatik ataupun elektrik. Demikian pula pengikatan dan pelepasan
benda kerjanya dibantu dengan alat angkat sehingga mesin ini hanya
digunakan untuk industri mesin perkakas berskala besar.



Gambar 9. Mesin bubut lantai

1.3.4.3 Mesin bubut lantai dengan pengendali
Mesin bubut lantai dengan pengendali (Gambar 10) bagianbagiannya
meliputi: 1). panel kontrol penyetelan., 2). panel kontrol
pengerjaan., 3). soket segi enam untuk merubah kecepatan., 4).
handel pelumasan dan pembersihan kepala lepas., 5). kran untuk
pendingin., 6). sarung penyetel pahat dalam., 7). tuas kepala lepas.,
8). panel kontrol eretan memanjang., 9). panel kontrol eretan
melintang., 10). panel kontrol kepala lepas., 11). ulir pengikat kepala
lepas., 12). handel pelumas., 13). roda pengatur gerak memanjang,
14). roda pengatur gerak pemakanan., 15). tuas penjepit pembawa,
16). roda pengatur pemberhentian
Jenis mesin bubut ini sering digunakan untuk membubut bakal
roda-roda gigi yang besar baik bakal roda gigi lurus maupun bakal
roda miring.



Gambar 10. Mesin bubut dengan pengendali

1.3.4.4 Mesin bubut tegak
Jenis mesin bubut tegak (Gambar 11) dilihat dari kontruksinya
berbeda dengan mesin bubut sebelumnya, karena letak kepala tetap
dan kepala lepasnya pada posisi tegak. Cekam kepala tetapnya
berada dibawah sedang kepala lepasnya berada diatas, khususnya
untuk keperluan produksi poros dengan diameter relatif besar dan
panjang.



Gambar 11. Mesin bubut tegak


1.3.4.5 Mesin bubut dengan enam spindel mendatar
Mesin bubut dengan enam spindel mendatar (Gambar 12)
memiliki enam spindel mendatar yang masing-masing dapat dipasang
cekam dan dibelakangnya dilengkapi dudukan sekaligus sebagai
pengarah masuknya bahan/benda kerja, sehingga dapat mencekam
bahan yang memilki ukuran panjang. Pencekaman dan majunya
bahan serta pergantian posisi cekam dapat dilakukan secara otomatis
(sisitim hidrolik atau peneumatik) sehingga jenis mesin ini sangat
cocok untuk memproduksi produk secara massal yang memiliki ukuran
dan bentuk yang sama.



Gambar 12. Mesin bubut dengan enam spindel mendatar

1.3.4.6 Mesin bubut tegak dengan delapan spindel
Mesin bubut dengan delapan spindel (Gambar 13) memiliki
delapan spindel posisi tegak yang masing-masing dapat dipasang
cekam yang berukuran besar. Prinsip kerjanya sama dengan mesin
bubut dengan enam spindel mendatar, hanya saja pemasangan benda
kerjanya pada posisi tegak. Karena memiliki ukuran sepindel yang
besar, sehingga jenis mesin ini sangat cocok untuk produksi secara
massal yang memiliki ukuran besar tetapi memiliki ukuran tidak
terlalu panjang.



Gambar 13. Mesin bubut tegak dengan delapan spindle

1.3.4.7 Mesin bubut tegak dengan delapan spindel sistim rotari
Mesin bubut dengan delapan spindel sistim rotari (Gambar 14)
memiliki delapan spindel posisi tegak yang masing-masing dapat
dipasang cekam yang berukuran besar. Prinsip kerjanya sama dengan
mesin bubut dengan enam spindel mendatar, namun memilki
kelebihan yaitu masuknya bahan (raw material) dan keluarnya hasil
produk dapat dilakukan secara otomatis (sisitim hidrolik atau
pneumatik). Sehingga prosesnya produksinya bisa lebih cepat bila
dibandingkan dengan mesin bubut enam spindel mendatar



Gambar 14. Mesin bubut tegak delapan spindel sistim rotari

1.3.4.8 Mesin bubut potong
Mesin bubut potong (Gambar 15) berfungsi untuk memotong
benda kerja khususnya kawat. Pemotongan dilakukan secara otomatis
sehingga jenis mesin ini sangat cocok untuk memotong kawat secara
massal yang memiliki ukuran panjang yang sama.



Gambar 15. Mesin bubut khusus untuk memotong

1.3.4.9 Mesin bubut ulir
Mesin bubut ulir (Gambar 16) berfungsi khusus untuk membuat
batang ulir luar (baut), kontruksinya hampir sama dengan mesin bubut
konvensional ukuran sedang. Karena mesin ini dikhususkan untuk
membuat ulir, sehingga sangat cocok untuk membuat ulir luar secara
massal yang memiliki ukuran panjang dan jenis ulir yang sama.





Gambar 16. Mesin bubut ulir

1.3.4.10 Mesin bubut ulir tipe Swiss
Mesin bubut ulir tipe Swiss (Gambar 17) juga khusus
berfungsi untuk membuat batang ulir luar (baut). Kontruksinya hampir
sama dengan mesin bubut turret. Karena mesin ini dikususkan untuk
membuat ulir, sehingga ini sangat cocok untuk membuat ulir secara
massal yang memiliki ukuran panjang dan jenis ulir yang sama.



Gambar 17. Mesin bubut khusus pembuat ulir tipe Swiss

1.3.4.11 Mesin bubut turret
Mesin bubut turret (Gambar 18) berfungsi seperti halnya
mesin bubut konvensinal berukuran sedang, namun memilki dudukan
alat potong ada beberapa buah yang pergantian posisinya dapat
dilakukan dengan mudah (sistim mekanik, hidrolik atau peneumatik).
Jenis mesin ini pada umumnya memilki ukuran yang relatif kecil,
sehingga sangat cocok untuk memproduksi produk secara massal
yang memiliki ukuran kecil.



Gambar 18. Mesin bubut turret

1.4 Bagian-bagian utama mesin bubut konvensional (Biasa)
Bagian-bagian utama pada mesin bubut konvesional pada
umumnya sama walaupun merk atau buatan pabrik yang berbeda,
hanya saja terkadang posisi handel/tuas, tombol, tabel penunjukan
pembubutan dan rangkaian penyusunan roda gigi untuk berbagai jenis
pembubutan letak/posisinya berbeda. Demikian juga cara
pengoperasianya karena memilki fasilitas yang sama juga tidak jauh
berbeda.
Berikut ini akan diuraikan bagian-bagian utama mesin bubut
konvesional (biasa) yang pada umumnya dimilki oleh mesin tersebut.

1.4.1 Sumbu Utama (Main Spindle)
Sumbu utama atau dikenal dengan main spindle (Gambar 19 a
dan 19 b) merupakan suatu sumbu utama mesin bubut yang berfungsi
sebagai dudukan chuck (cekam), plat pembawa, kolet, senter tetap
dan lain-lain. Terlihat pada (Gambar 19 a) adalah sebuah sumbu
utama mesin bubut yang terpasang sebuah chuck atau cekam
diamana didalamnya terdapat susunan roda gigi yang dapat digesergeser
melalui handel/tuas untuk mengatur putaran mesin sesuai
kebutuhan pembubutan.
Terlihat pada (Gambar 19 b) adalah jenis lain sumbu utama
mesin bubut yang ujungnya sedang terpasang sebuah senter tetap
(G), yang berfungsi sebagai tempat dudukan benda kerja pada saat
pembubutan dintara dua senter. Di dalam kepala tetap ini terdapat
serangkaian susunan roda gigi dan roda pulley bertingkat ataupun
roda tunggal dihubungkan dengan sabuk V atau sabuk rata. Dengan
demikian kita dapat memperoleh putaran yang berbeda-beda apabila
hubungan diantara roda tersebut diubah-ubah menggunakan
handel/tuas pengatur kecepatan (A), (C) dan (F). Roda (Pully V)
bertingkat ini biasanya terdiri dari 3 atau 4 buah keping dengan sumbu
yang berbeda dan diputar oleh sebuah motor listrik.
Putaran yang dihasilkan ada dua macam yaitu putaran cepat
dan putaran lambat. Putaran cepat biasanya dilakukan pada kerja
tunggal untuk membubut benda dengan sayatan tipis sedangkan
putaran lambat untuk kerja ganda yaitu untuk membubut dengan
tenaga besar dan pemakananya tebal (pengasaran). Arah putaran
mesin dapat dibalik menggunakan tuas pembalik putaran (C), hal ini
diperlukan dengan maksud misalnya untuk membubut ulir atau untuk
membubut dengan arah berlawanan sesuai dengan sudut mata potong
pahat.
(a) (b)

Gambar 19. Sumbu Utama

1.4.2 Meja Mesin (bed)
Meja mesin bubut ( Gambar 20) berfungsi sebagai tempat
dudukan kepala lepas, eretan, penyangga diam (steady rest) dan
merupakan tumpuan gaya pemakanan waktu pembubutan. Bentuk
alas ini bermacam-macam, ada yang datar dan ada yang salah satu
atau kedua sisinya mempunyai ketinggian tertentu. Permukaannya
halus dan rata sehingga gerakan kepala lepas dan lain-lain di atasnya
lancar. Bila alas ini kotor atau rusak akan mengakibatkan jalannya
eretan tidak lancar sehingga akan diperoleh hasil pembubutan yang
tidak baik atau kurang presisi.



Gambar 20. Meja Mesin Bubut

1.4.3 Eretan (carriage)
Eretan (Gambar 21) terdiri atas eretan memanjang (longitudinal
carriage) yang bergerak sepanjang alas mesin, eretan melintang
(cross carriage) yang bergerak melintang alas mesin dan eretan atas
(top carriage), yang bergerak sesuai dengan posisi penyetelan d atas
eretan melintang. Kegunaan eretan ini adalah untuk memberikan
pemakanan yang besarnya dapat diatur menurut kehendak operator
yang dapat terukur dengan ketelitian tertentu yang terdapat pada roda
pemutarnya. Perlu diketahui bahwa semua eretan dapat dijalankan
secara otomatis ataupun manual.



Gambar 21. Eretan (carriage)

1.4.4 Kepala Lepas (tail stock)
Kepala lepas sebagaimana (Gambar 22) digunakan untuk
dudukan senter putar sebagai pendukung benda kerja pada saat
pembubutan, dudukan bor tangkai tirus dan cekam bor sebagai
menjepit bor. Kepala lepas dapat bergeser sepanjang alas mesin,
porosnya berlubang tirus sehingga memudahkan tangkai bor untuk
dijepit. Tinggi kepala lepas sama dengan tinggi senter tetap. Kepala
lepas ini terdiri dari terdapat dua bagian yaitu alas dan badan, yang
diikat dengan 2 baut pengikat (A) yang terpasang pada kedua sisi alas
kepala lepas sekaligus berfungsi untuk pengatur pergeseran badan
kepala lepas untuk keperluan agar dudukan senter putar sepusat
dengan senter tetap atau sumbu mesin, atau tidak sepusat yaitu pada
waktu membubut tirus diantara dua senter.
Selain roda pemutar (B), kepala lepas juga terdapat dua lagi
lengan pengikat yang satu (C) dihubungkan dengan alas yang
dipasang mur, dimana fungsinya untuk mengikat kepala lepas
terhadap alas mesin agar tidak terjadi pergerakan kepala lepas dari
kedudukannya. Sedangkan yang satunya (D) dipasang pada sisi
tabung luncur/rumah senter putar, bila dikencangkan berfungsi agar
tidak terjadi pergerakan longitudinal sewaktu membubut.



Gambar 22. Kepala Lepas


1.4.5 Tuas Pengatur Kecepatan Transporter dan Sumbu Pembawa
Tuas pengatur kecepatan (A) pada gambar 23, digunakan untuk
mengatur kecepatan poros transporter dan sumbu pembawa. Ada dua
pilihan kecepatan yaitu kecepatan tinggi dan kecepatan rendah.
Kecepatan tinggi digunakan untuk pengerjaan benda-benda
berdiameter kecil dan pengerjaan penyelesaian sedangkan kecepatan
rendah digunakan untuk pengerjaan pengasaran, ulir, alur, mengkartel
dan pemotongan (cut off).



Gambar 23. Tuas pengatur kecepatan


Besarnya kecepatan setiap mesin berbeda-beda dan dapat dilihat
pada plat tabel yang tertera pada mesin tersebut.

1.4.6 Pelat tabel
Pelat tabel (B) pada gambar 24, adalah tabel besarnya
kecepatan yang ditempel pada mesin bubut yang menyatakan besaran
perubahan antara hubungan roda-roda gigi di dalam kotak roda gigi
ataupun terhadap roda pulley di dalam kepala tetap (head stock).
Tabel ini sangat berguna untuk pedoman dalam pengerjaan sehingga
dapat dipilih kecepatan yang sesuai dengan besar kecilnya diameter
benda kerja atau menurut jenis pahat dan bahan yang dikerjakan

1.4.7 Tuas pengubah pembalik transporter dan sumbu pembawa
Tuas pembalik putaran (C) pada gambar 24, digunakan untuk
membalikkan arah putaran sumbu utama, hal ini diperlukan bilamana
hendak melakukan pengerjaan penguliran, pengkartelan, ataupun
membubut permukaan


Gambar 24.
Tuas pembalik putaran (C)


1.4.8 Plat Tabel Kecepatan Sumbu Utama
Plat tabel kecepatan sumbu utama (E) pada Gambar 25,
menunjukkan angka-angka besaran kecepatan sumbu utama yang
dapat dipilih sesuai dengan pekerjaan pembubutan.



Gambar 25. Plat tabel kecepatan sumbu utama

1.4.9 Tuas-Tuas Pengatur Kecepatan Sumbu Utama
Tuas pengatur kecepatan sumbu utama (Gambar 26) berfungsi
untuk mengatur kecepatan putaran mesin sesuai hasil dari
perhitungan atau pembacaan dari tabel putaran.

Gambar 26. Tuas pengatur kecepatan sumbu utama

1.4.10 Penjepit Pahat (Tools Post)
Penjepit pahat digunakan untuk menjepit atau memegang pahat,
yang bentuknya ada beberapa macam diantaranya seperti ditunjukkan
pada gambar 27. Jenis ini sangat praktis dan dapat menjepit pahat 4
(empat) buah sekaligus sehingga dalam suatu pengerjaan bila
memerlukan 4 (empat) macam pahat dapat dipasang dan disetel
sekaligus.



Gambar 27. Penjepit pahat

1.4.11 Eretan Atas
Eretan atas sebagaimana gambar 28, berfungsi sebagai
dudukan penjepit pahat yang sekaligus berfungsi untuk mengatur
besaran majunya pahat pada proses pembubutan ulir, alur, tirus,
champer (pingul) dan lain-lain yang ketelitiannya bisa mencapai 0,01
mm.



Gambar 28. Eretan atas

Eretan ini tidak dapat dijalankan secara otomatis, melainkan
hanya dengan cara manual. Kedudukannya dapat diatur dengan
memutarnya sampai posisi 360°, biasanya digunakan untuk
membubut tirus dan pembubutan ulir dengan pemakanan
menggunakan eretan atas.

1.4.12 Keran pendingin
Keran pendingin digunakan
untuk menyalurkan
pendingin (collant) kepada
benda kerja yang sedang
dibubut dengan tujuan
untuk mendinginkan pahat
pada waktu penyayatan
sehingga dapat menjaga
pahat tetap tajam dan
panjang umurnya. Hasil
bubutannyapun halus.
Gambar 29. Keran pendingin

1.4.13 Roda Pemutar
Roda pemutar yang terdapat pada kepala lepas digunakan untuk
menggerakkan poros kepala lepas maju ataupun mundur. Berapa
panjang yang ditempuh ketika maju atau mundur dapat diukur dengan
membaca cincin berskala (dial) yang ada pada roda pemutar tersebut.
Pergerakkan ini diperlukan ketika hendak melakukan pengeboran
untuk mengetahui atau mengukur seberapa dalam mata bor harus
dimasukkan.

1.4.14 Transporter dan Sumbu pembawa
Transporter atau poros transporter adalah poros berulir segi
empat atau trapesium yang biasanya memiliki kisar 6 mm, digunakan
untuk membawa eretan pada waktu kerja otomatis, misalnya waktu
membubut ulir, alur dan atau pekerjaan pembubutan lainnya.
Sedangkan sumbu pembawa atau poros pembawa adalah poros
yang selalu berputar untuk membawa atau mendukung jalannya
eretan.


Gambar 30. Poros transporter dan Sumbu pembawa


1.4.15 Tuas Penghubung
Tuas penghubung sebagaimana digunakan untuk
menghubungkan roda gigi yang terdapat pada eretan dengan poros
transpoter sehingga eretan akan dapat berjalan secara otomatis
sepanjang alas mesin. Tuas penghubung ini mempunyai dua
kedudukan. Kedudukan di atas berarti membalik arah gerak putaran
(arah putaran berlawanan jarum jam) dan posisi ke bawah berarti
gerak putaran searah jarum jam.

1.4.16 Eretan Lintang
Eretan lintang sebagaimana ditunjukkan pada berfungsi
untuk menggerakkan pahat melintang alas mesin atau arah ke depan
atau ke belakang posisi operator yaitu dalam pemakanan benda kerja.
Pada roda eretan ini juga terdapat dial pengukur untuk mengetahui
berapa panjang langkah gerakan maju atau mundurnya pahat.

1.5 Dimensi Utama Mesin Bubut
Ukuran mesin bubut ditentukan oleh panjangnya jarak antara
ujung senter kepala lepas dan ujung senter kepala tetap (Gambar 31).
Misalnya tinggi mesin bubut 200 mm, berarti mesin tersebut hanya
mampu menjalankan eretan melintangnya sepanjang 200 mm atau
mampu melakukan pembubutan maksimum benda kerja yang memiliki
radius 200 mm (berdiameter 400 mm). Demikian pula misalnya
panjang mesin 1000 mm, berarti hanya dapat menjalankan eretan
memanjangnya sepanjang 1000 mm.
Namun demikian beberapa mesin bubut ada yang mempunyai
fasilitas atau kelengkapan untuk menambah ukuran diameter benda
kerja yang dapat dikerjakan dengan beberapa alat khusus atau
didesain khusus pula, misalnya untuk menambah ukuran diameter
yaitu dengan membuka pengikat alas diujung kepala tetap.



Gambar 31. Dimensi Utama Mesin Bubut

6 1.6 Perbedaan Mesin Bubut Konvensional dengan CNC
Tabel 1. Perbedaan mesin bubut konvensional dengan CNC
No Kegiatan Mesin bubut
konvensional Mesin bubut CNC
1 Pengendalian manual Komputer
2 Cara kerjanya mudah Sulit / komplek
3 Hasil kerjanya teliti Sangat teliti
4 Program jobsheet Input data
5. Seting pahat Cepat Lama
Cara pengendalian mesin bubut dapat dilakukan dengan
konvensional atau dengan komputer yaitu sistim numerik (numerical
control) atau dengan Computer Numerical Control (CNC). Perintahperintahnya
menggunakan bahasa numerik melalui kode N dan kode
G. Sebagai contoh untuk memerintahkan spindel berputar searah
jarum jam cukup memasukkan perintah M03 maka spindel akan jalan,
demikian pula untuk menghentikannya cukup dimasukkan perintah
M05. Mesin CNC sebelum dioperasikan memerlukan perencanaan
dari awal sampai dengan akhir. Bahkan dilakukan pengujian melalui
layar monitor atau benda Uji dahulu, setelah semuanya benar baru
diproduksi secara masal.
Berbeda dengan mesin konvensional, operator harus melakukan
perencanaan setelah itu langsung melaksanaan (eksekusi). Sebagai
contoh operator ingin mengurangi diameter poros 2 mm, maka
operator langsung melaksanakannya. Selain itu operator harus
mengetahui tombol atau handel yang diperlukan untuk
menggendalikan mesin tersebut.

1.7 Alat Kelengkapan Mesin Bubut
1.7.1 Chuck (Cekam)
Cekam adalah sebuah alat yang digunakan untuk menjepit benda
kerja. Jenisnya ada yang berahang tiga sepusat (Self centering Chuck)
yang dapat dilihat pada Gambar 32, dan ada juga yang berahang tiga
dan empat tidak sepusat (Independenc Chuck) yang dapat dilihat
pada Gambar 32.
Cekam rahang tiga sepusat, digunakan untuk benda-benda
silindris, dimana gerakan rahang bersama-sama pada saat
dikencangkan atau dibuka. Sedangkan gerakan untuk rahang tiga dan
empat tidak sepusat, setiap rahang dapat bergerak sendiri tanpa
diikuti oleh rahang yang lain, maka jenis ini biasanya untuk mencekam
benda-benda yang tidak silindris atau digunakan pada saat
pembubutan eksentrik.

Gambar 32. Cekam Rahang Tiga Sepusat
(Self centering Chuck )

1 komentar:

mara dona mengatakan...

SEMOGA BERMANFAAT UNTUK ANDA SEMUA

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates